Apakah Pria Punya Warna Khusus Dalam Fashion?


Tajuk Rencana 


Pemilihan warna dalam fashion pria sering kali menuai perdebatan, lantaran terdapat kategori atau pengotak-ngotakan antara warna dengan gender. Pria kerap kali diidentikkan dengan warna biru yang terkesan kuat dan maskulin berdasarkan konstruksi sosial saat ini. Sedangkan pria yang memakai warna pink akan mendapatkan kesan kemayu, karena warna pink identik dengan feminim.

 

Pemilihan warna pada sebuah fashion pada dasarnya ialah untuk memperoleh kesan yang mewakili pemakainya. Menjadi sangat sempit ketika warna dalam fashion harus dikaitkan dengan identitas gender, dampaknya bukan hanya pada pria yang memakai warna pink, tetapi juga pada wanita yang memakai warna biru, pastinya akan timbul stigma-stigma yang berpengaruh baik pada lingkungannya maupun pribadinya.

 

Terdapat sejarah yang panjang dan berliku terkait hubungan antara warna dengan identitas gender. pada awalnya warna pink adalah warna maskulin yang diperuntukan untuk pria. Sebab, warna pink cenderung mewakili kesan kuat, hal ini diambil dari warna dasar merah yang menunjukkan keberanian. Sedangkan warna biru lebih cocok dalam mewakili kesan lembut sehingga banyak diperuntukan untuk wanita pada saat itu.

 

Edisi Juni 1918, majalah professional Earnshaw’s Infant Department, menyarankan wanita untuk memakai warna biru karena dianggap lebih halus. Sedangkan, pria memakai warna pink karena dianggap lebih kuat. Pada 1927, majalah Time mengeluarkan grafik yang menunjukkan warna yang sesuai untuk pria dan wanita berdasarkan toko-toko pakaian di Amerika. Toko-toko tersebut mengajurkan pemakaian warna pink untuk pria dan warna biru untuk wanita.

 

Warna pink mulai diidentikkan dengan wanita setelah perang dunia ke-II. Pada masa itu, Mamie Eisenhower, yakni istri dari Dwight Eisenhower, Presiden Amerika Serikat. Ia sering kali tampil dengan gaun berwarna pink. Posisinya sebagai ibu negara tentunya mendapat banyak sorotan salah satunya dari warna pakaian yang sering ia kenakan. Sedikit demi sedikit warna pink menjadi warna yang elegan apabila dikenakan oleh wanita

 

Pada 1957, muncul film Funny Face yang menjadikan warna pink sangat identik dengan wanita. Dalam film tersebut terdapat  lagu Think Pink yang dinyanyikan oleh Diana Vreeland, dimana salah satu liriknya mengatakan ”buang hitam dan bakar biru”. Sejak saat itu perlahan makna dari warna pada fashion mulai mengalami pergeseran.

 

Ada juga yang menyatakan kalau warna pink identik dengan warna wanita dan warna biru identik dengan pria, setelah munculnya dua lukisan yang dilukis oleh Millioner Amerika, Henry, pada abad 18. Lukisan tersebut diberi judul “The Blue Boy” dan “Pinkie”. The Blue Boy menunjukkan anak lelaki bangsawan yang mengenakan pakaian berwarna biru. Sedangkan, Pinkie menujukkan anak perempuan yang mengenakan pakaian berwarna pink.

 

Pada era sekarang mulai muncul sebuah istilah “Toxic Masculinity in Fashion” dimana maskulinitas seorang pria bukanlah berdasarkan dari warna apa bahkan potongan fashion seperti apa yang ia kenakan. Batasan feminim dan maskulin tidaklah sekaku itu, pria seharusnya bisa memilih warna apa saja untuk ia kenakan, begitu juga dengan wanita.

 

Dibandingkan menghubungkan maskulinitas seorang pria dengan warna apa yang ia kenakan, rasanya pengotak-ngotakan yang dibangun dari konstruksi sosial tersebut lebih berdasarkan sebagai rasa takut menjadi feminim bagi pria. Ketika pria yang dianggap menyimpang dari sisi maskulin akan mendapat kritik yang lebih keras daripada wanita yang menyimpang dari sisi feminim. Fashion seharusnya menjadi cara bagaimana individu mempresentasikan dirinya, tidak perlu khawatir lantaran pemilihan baik warna maupun jenis potongan seperti apa. (mf)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nathanael Moss, Model Hits dan Fashion Inspiration Kawula Muda

Mahasiswa Desain Mode Ambil Bagian Dalam Ecoprint Fashion Week 2022

Between Moods, Rilisan Terbaru FAMILIAS